Minggu, 16 November 2014

Manajemen Aktiva dan Aktiva Tidak Berwujud


    A.   Pengertian aktiva tetap
Aktiva adalah sumber daya ekonomi yang diperoleh dan dikuasai oleh suatu perusahaan sebagai hasil dari transaksi masa lalu, salah satunya adalah aktiva tetap yang digunakan perusahaan dalam kegiatan operasional perusahaan dalam menghasilkan produk. Untuk menghasilkan produk ini maka peranan aktiva tetap sangat besar, seperti lahan sebagai tempat berproduksi, bangunan sebagai tempat pabrik dan kantor, mesin dan peralatan sebagai alat untuk berproduksi dan lain-lain.
Menurut Menurut SAK No. 16 tahun 2004 yang dimaksud dengan aktiva adalah aktiva tetap adalah aktiva berwujud, yang di peroleh dalam bentuk siap pakai atau dibangun terlebih dahulu, digunakan dalam operasi perusahaan, tidak dimaksudkan untuk dijual dalam kegiatan normal perusahaan dan mempunyai manfaat lebih dari 1 tahun.[1] Sedangkan menurut FASB  Statement of Financial accounting Concepts aktiva adalah manfaat ekonomis mendatang yang mungkin akan diperoleh atau dikendalikan oleh kesatuan ekonomi tertentu sebagai akibat transaksi atau peristiwa yang lalu”.[2]

·         Aktiva tetap mempunya karakteristik sebagai berikut:

1.    Digunakan dalam kegiatan normal perusahaan,artinya tetap dimiliki untuk digunakan dalam operasi perusahaan bukan untuk dijual kembali (barang dagangannya),atau investasi.
2.    Masa manfaatnya lebih dari satu tahun atau satu siklus operasi normal perusahaan,dan nilai manfaatnya dapat diukur.
3.    Mempunyai nilai yang cukup material, artinya nilai/harga aktiva tersebut cukup tinggi, misalnya tanah, bangunan, mesin-mesin, inventasi, peralatan, kendaraan. Sedangkan aktiva yang nilainya relative kecil, walaupun dapat digunakan dalam jangka panjang, tidak digolongkan sebagai aktiba. Misalnya pulpen, kalkulator, gunting.
4.    Memiliki wujud fisik.

·         Aktiva tetap dapat dibagi menjadi 2 yaitu:

a)    Aktiva tetap berwujud
Contoh: peralatan, bangunan, tanah, alat angkut, mesin, dan sebagainya.
b)    Aktiva tetap tidak berwujud
Contoh: goodwill, hak paten, hak cipta, merek dagang, frenchise dan sebagainya.

B.   Pengertian aktiva tetap tak berwujud
Aktifa tetap tak berwujud (intangible assets) adalah aktiva-aktiva yang umurnya lebih dari satu tahun dan tidak mempunyai bentuk fisik. Pada umumnya aktiva tidak berwujud merupakan hak-hak yang dimiliki yang dapat digunakan lebih dari satu tahun. Aktiva seperti ini mempunyai nilai karena diharapkan dapat memberikan sumbangan pada laba[3]. Yang termasuk aktiva tetap tak berwujud, antara lain :
1.    Pemerintah: hak paten, hak cipta, merek dagang atau nama dagang.
2.    Perusahaan: pembelian yang mencangkup pembayaran goodwill
3.    Perjanjian: frenchise

Berikut ini merupakan penjelan yang termasuk aktiva tetap tak berwujud:
a.    Hak paten
Hak paten adalah hak istimewa yang dikeluarkan oleh pemerintah yang memberikan kewenangan kepada pemegang hak untuk memproduksi, menjual, dan mengawasi penemuannya dalam jangka waktu tertentu sejak hak tersebut diberikan. Harga perolehan suatu aktiva tak berwujud adalah kas (ekulivalensinya) yang dibayarkan untuk memperoleh hak patennya, yang meliputi biaya penelitian, biaya percobaan, biaya pengembangan, biaya pendaftaran, dan biaya lain – lain.
b.    Hak cipta
Hak cipta (copy rights) adalah hak tunggal  yang diberikan oleh pemerintah kepada orang atau badan  (pengarang, pencipta lagu/music, seniman) untuk menerbitkan/mempublikasikan, menjual atau mengawasi ciptaannya. Masa penggunaan hak cipta dibatasi selama 28 tahun dan dimungkinkan untuk perpanjangan selama 28 tahun lagi. hak cipta dapat diperoleh dengan penemuan sendiri atau dengan membeli dari pihak lain. Jika diperoleh dari penemuan sendiri, maka biaya utnuk memperoleh hak cipta tidak begitu besar, sehingga bisa diperlakukan sebagai beban pada periode perolehan. Jika hak cipta diperoleh dari membeli dari pihak lain harga perolehannya cukup besar, maka perlu dikapitalisasikan sebagai aktiva tetap tidak berwujud dan diamortisasikan selama umur ekonomis.
Harga perolehan hak cita adalah semua pengeluaran biaya yang berhubungan dengan usaha memperoleh hak tersebut, seperti :
ü  Biaya peninjauan
ü  Biaya perizinan
ü  Biaya pengerjaan
ü  Biaya biaya pendaftaran dll.
Harga perolehan hak cipta yang diperoleh dengan membeli dari pihak lain adalah sebesar harga belinnya.
c.    Merek Dagang atau Nama Dagang
Merek dagang (trade merk) adalah hak tunggal yang diberikan oleh pemerintah kepada orangn atau badan usaha yang menggunakan cap, nama atau lambang usaha. Apabila biaya untuk memperoleh merek dagang tidak material maka biaya itu bisa diperlakukan sebagai beban pada periode diperolehnya. Tetapi jika biaya cukup besar, maka dikapitalisasikan sebagai aktiva tetap tidak berwujud dan diamortisasikan setiap tahun. Harga prolehan merek dagang yang dibuat sendiri oleh prusahaan adalah semua biaya yang berhubungan dengan usaha pembuatan dan pendaftarannya. Sementara merek dagang yang diperoleh dengan pembelian darr pihak lain, harga perolehannya adalah sebesar harga belinya.

d.    Goodwill
Goodwill adalah nilai lebih yang dimiliki oleh suatu perusahaan yang timbul karena adanya kelebihan dalam beberapa factor, seperti nama yang terkenal, staf dan personalia yang berkemampuan tinggi atau lokasi perusahaan yang menguntungkan. Goodwill hanya bisa dicatat  atau diakui apabila pindah dari perusahaan lain melalui pembelian perusahaan lain pada harga yang lebih tinggi dari nilai wajaraktiva nettonya. Kelebihan harga diatas nilai wajar itulah yang diakui sebagai harga perolehan goodwiil.[4]
           
       Dalam aktiva tetap tak berwujud terdapat 3 karakteristik, antara lain: (1) tidak memiliki keberadaan secara fisik, (2) bukan merupakan instrumen keuangan, (3) bersifat jangka panjang dan harus diamortisasi.

·    Pengelompokan aktiva tak berwujud:

Aktiva tidak berwujud dapat dikelompokan kepada:
1)    Kemampuan dapat diidentifikasikan:
ü Dapat diidentifikasikan seperti hak cipta, hak paten, dan sebagainya.
ü Tidak dapat diindentifikasikan seperti goodwill
2)    Cara perolehan:
ü Secara pembelian, seperti hak paten
ü Melalui penggabungan bada usaha seperti goodwill
ü Dikembangakan sendiri seperti formula rahasia
3)    Masa manfaat yang diharapkan:
ü Tergantung pada pembatasan yang diatur oleh hukum atau perjanjian seperti hak paten, hak cipta, dan sebagainya
ü Jangka waktu yang tidak terbatas seperti goodwill, merek dagang
4)    Kemampuan untuk dipisahkan dari eksistensi perusahaan:
ü Dapat dipisahkan seperti hak cipta
ü Tidak dapat dipisahkan seperti goodwill[5]

C.   Aktiva/sarana prasarana sekolah (spp)
Sarana dan prasarana sangat penting dalam dunia pendidikan karena sebagai alat penggerak suatu pendidikan. Sarana dan prasarana pendidikan dapat berguna untuk menunjang penyelenggaraan proses belajar mengajar, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam suatu lembaga dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Sarana dan prasarana pendidikan adalah salah satu sumber daya yang menjadi tolok ukur mutu sekolah dan perlu peningkatan terus menerus seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang cukup canggih.
Bentuk Aktiva dalam sarana dan prasarana dalam dunia pendidikan umumnya sama dengan aktiva dunia industri atau perkantoran. Terdapat aktiva berwujud dan aktiva tak berwujud, penjelasannya sebagai berikut:

1.      Aktiva berwujud dalam sarana dan prasarana sekolah
Aktiva berwujud dalam sarana dan prasarana sekolah merupakan segala maca alat yang digunakan secara langsung dalam proses pendidikan. yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. Contoh: buku, alat tulis, papan tulis, meja dan sebagainya.

2.      Aktiva tak berwujud dalam sarana dan prasarana sekolah
Aktiva tak berwujud dalam sarana dan prasaran sekolah merupakan segala macam alat, perlengkapan, atau benda-benda yang dapat digunakan untuk memudahkan penyelenggaraan pendidikan. Contoh: gedung sekolah

D.   Metode penyusutan dan Amortisasi

1.    Metode penyusutan
Dalam standar akuntansi keuangan yang sudah diterima umunya terdapat 4 metode yang paling sering digunakan dalam menghitung beban penyusutan (depresiasi), metode penyusutan tersebu yaitu:

a.    Metode garis lurus (straight line methods)
Metode ini merupakan metode perhitungan yang paling sederhana dan banyak digunakan oleh organisasi perusahaan. Cara ini memberikan beban depresiasi yang konstan pada setiap periode akuntansi selama masa manfaat dari aktiva tetap yang bersangkutan, dalam metode ini penentuan besar penyusutan setiap tahun selama umur ekonomis sama besar, sehingga jikat dibuatkan grafiknya terhadap waktu dan akumulasi biaya akan berupa garis lurus.

b.    Metode dengan angka-angka tahunan (sum of the year digit methods)
Metode jumlah angka tahun akan menghasilkan biaya depresiasi yang lebih pada tahun-tahun awal dan semakin kecil pada tahun-tahun akhir. Oleh karena itu, metode ini juga termasuk dalam metode depresiasi yang dipercepat. Metode ini disebut jumlah angka-angka tahun karena tarif depresiasinya didasarkan pada suatu pecahan yang:
ü Pembilangnya adalah tahun-tahun pemakaian aktiva yang masih tersisa sejak awal tahun ini
ü Penyebutnya adalah jumlah tahun-tahun sejak tahun pertama hingga tahun pemakaian akhir

c.    Metode saldo menurun (declining balance methods)
Pada metode ini, biaya depresiasi dari tahun ke tahun semakin menurun. Hal ini terjadi karena perhitungan biaya depresiasi periodik didasarkan pada nilai buku (harga perolehan dikurangi dengan akumulasi depresiasi) aktiva yang semakin menurun dari tahun ke tahun. Metode ini merupakan metode depresiasi yang dihitung dengan mengalihkan nilai buku aktiva pada awal periode dengan dua kali tarif garis lurus. Nilai buku pada awal tahun pertama adalah sama dengan harga perolehan aktiva, sedangkan pada tahun-tahun berikutnya, nilai buku adalah selisih antara harga perolehan dengan akumulasi depresiasi pada awal tahun. Berbeda dengan metode lainnya, pada metode ini nilai residu tidak diperhitungkan. Akan tetapi, nilai residu akan menjadi batas jumlah depresiasi yang akan dilakukan. Depresiasi akan berakhir apabila nilai buku telah mencapai jumlah yang sama dengan atau mendekati taksiran nilai residu.

d.    Metode unit produksi (unit productive methods)
Dalam metode suatu hasil, masa pemakaian aktiva yang dinyatakan dengan jangka waktu, melainkan dengan jumlah satuan (unit) yang dapat dihasilkan oleh aktiva yang bersangkutan. Metode ini cocok digunakan untuk depresiasi mesin pabrik, karena hasil suatu mesin dapat diukur satuannya. Metode ini dapat juga didasarkan pada jam kerja mesin atau jam kerja operator yang menangani mesin. Metode ini dapat digunakan juga untuk peralatan angkutan (diukur dengan jarak yang ditempuh) atau peralatan kantor tertentu (diukur dengan jam pemakaian). Namun demikian metode ini tidak tepat digunakan pada gedung atau mebel, karena untuk aktiva semacam ini depresiasi lebih merupakan fungsi waktu (bukan kegiatan), dan satuan hasilnya sukar untuk diukur. Oleh karena itu dalam metode ini yang perlu ditaksir adalah jumlah satuan hasil yang diperkirakan dapat dihasilkan oleh aktiva. Taksiran satuan hasil ini dipakai untuk membagi harga perolehan depresiasi, sehingga dapat ditentukan depresiasi per tahun hasil. Angka depresiasi per unit hasil ini kemudian dikalikan dengan jumlah satuan hasil sesungguhnya pada satru tahun, sehingga dapat diterapkan depresiasi untuk tahun yang bersangkutan.

2.    Amortisasi
Amortisasi adalah pengurangan nilai aktiva tidak berwujud, seperti merek dagang, hak cipta, dan lain-lain, secara bertahap dalam jangka waktu tertentu pada setiap periode akuntansi. Pengurangan ini dilakukan dengan mendebit akun beban amortisasi terhadap akun aktiva. Aktiva tidak berwujud harus diamortisasikan menjadi beban sepanjang masa manfaat aktiva tersebut. Dalam PSAK No. 9 disebutkan bahwa periode amortisasi aktiva tidak berwujud tidak boleh melebihi 20 tahun berdasarkan pertimbangan bahwa selama 20 tahun sudah banyak perkembangan yang terjadi sehingga untuk tenggang waktu selebihnya aktiva tidak berwujud diperkirakan tidak lagi memiliki manfaat keekonomian.


[1]Ely Suharti & Sri Dewi Anggadini. Akuntansi Keuanga. (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009), hal 247
[3]Ely Suharti & Sri Dewi Anggadini. Akuntansi Keuangan. (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009), hal 267
[5]Ely Suharti & Sri Dewi Anggadini. Akuntansi Keuangan. (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009), hal 267-268

Tidak ada komentar:

Posting Komentar