A.
Pengertian
aktiva tetap
Aktiva adalah sumber daya ekonomi yang
diperoleh dan dikuasai oleh suatu perusahaan sebagai hasil dari transaksi masa
lalu, salah satunya adalah aktiva tetap yang digunakan perusahaan dalam
kegiatan operasional perusahaan dalam menghasilkan produk. Untuk menghasilkan
produk ini maka peranan aktiva tetap sangat besar, seperti lahan sebagai tempat
berproduksi, bangunan sebagai tempat pabrik dan kantor, mesin dan peralatan
sebagai alat untuk berproduksi dan lain-lain.
Menurut Menurut SAK
No. 16 tahun 2004 yang dimaksud dengan aktiva adalah aktiva tetap adalah aktiva
berwujud, yang di peroleh dalam bentuk siap pakai atau dibangun terlebih
dahulu, digunakan dalam operasi perusahaan, tidak dimaksudkan untuk dijual
dalam kegiatan normal perusahaan dan mempunyai manfaat lebih dari 1 tahun.[1]
Sedangkan menurut FASB Statement
of Financial accounting Concepts aktiva adalah manfaat
ekonomis mendatang yang mungkin akan diperoleh atau dikendalikan oleh kesatuan
ekonomi tertentu sebagai akibat transaksi atau peristiwa yang lalu”.[2]
·
Aktiva tetap
mempunya karakteristik sebagai berikut:
1. Digunakan
dalam kegiatan normal perusahaan,artinya tetap dimiliki untuk digunakan dalam
operasi perusahaan bukan untuk dijual kembali (barang dagangannya),atau
investasi.
2. Masa
manfaatnya lebih dari satu tahun atau satu siklus operasi normal perusahaan,dan
nilai manfaatnya dapat diukur.
3. Mempunyai
nilai yang cukup material, artinya nilai/harga aktiva tersebut cukup tinggi,
misalnya tanah, bangunan, mesin-mesin, inventasi, peralatan, kendaraan. Sedangkan
aktiva yang nilainya relative kecil, walaupun dapat digunakan dalam jangka
panjang, tidak digolongkan sebagai aktiba. Misalnya pulpen, kalkulator,
gunting.
4. Memiliki
wujud fisik.
·
Aktiva tetap
dapat dibagi menjadi 2 yaitu:
a) Aktiva tetap
berwujud
Contoh: peralatan, bangunan, tanah, alat angkut,
mesin, dan sebagainya.
b) Aktiva tetap
tidak berwujud
Contoh: goodwill, hak paten, hak cipta, merek dagang, frenchise
dan sebagainya.
B.
Pengertian
aktiva tetap tak berwujud
Aktifa tetap tak berwujud (intangible assets) adalah
aktiva-aktiva yang umurnya lebih dari satu tahun dan tidak mempunyai bentuk
fisik. Pada umumnya aktiva tidak berwujud merupakan hak-hak yang dimiliki yang
dapat digunakan lebih dari satu tahun. Aktiva seperti ini mempunyai nilai
karena diharapkan dapat memberikan sumbangan pada laba[3].
Yang termasuk aktiva tetap tak berwujud, antara lain :
1. Pemerintah:
hak paten, hak cipta, merek dagang atau nama dagang.
2. Perusahaan:
pembelian yang mencangkup pembayaran goodwill
3. Perjanjian:
frenchise
Berikut ini
merupakan penjelan yang termasuk aktiva tetap tak berwujud:
a. Hak paten
Hak paten
adalah hak istimewa yang dikeluarkan oleh pemerintah yang memberikan kewenangan
kepada pemegang hak untuk memproduksi, menjual, dan mengawasi penemuannya dalam
jangka waktu tertentu sejak hak tersebut diberikan. Harga perolehan suatu
aktiva tak berwujud adalah kas (ekulivalensinya) yang dibayarkan untuk
memperoleh hak patennya, yang meliputi biaya penelitian, biaya percobaan, biaya
pengembangan, biaya pendaftaran, dan biaya lain – lain.
b. Hak cipta
Hak cipta (copy rights)
adalah hak tunggal yang diberikan oleh
pemerintah kepada orang atau badan
(pengarang, pencipta lagu/music, seniman) untuk
menerbitkan/mempublikasikan, menjual atau mengawasi ciptaannya. Masa penggunaan
hak cipta dibatasi selama 28 tahun dan dimungkinkan untuk perpanjangan selama
28 tahun lagi. hak cipta dapat diperoleh dengan penemuan sendiri atau dengan
membeli dari pihak lain. Jika diperoleh dari penemuan sendiri, maka biaya utnuk
memperoleh hak cipta tidak begitu besar, sehingga bisa diperlakukan sebagai
beban pada periode perolehan. Jika hak cipta diperoleh dari membeli dari pihak
lain harga perolehannya cukup besar, maka perlu dikapitalisasikan sebagai
aktiva tetap tidak berwujud dan diamortisasikan selama umur ekonomis.
Harga perolehan hak cita
adalah semua pengeluaran biaya yang berhubungan dengan usaha memperoleh hak
tersebut, seperti :
ü Biaya
peninjauan
ü Biaya
perizinan
ü Biaya
pengerjaan
ü Biaya
biaya pendaftaran dll.
Harga
perolehan hak cipta yang diperoleh dengan membeli dari pihak lain adalah
sebesar harga belinnya.
c. Merek Dagang atau Nama
Dagang
Merek dagang (trade merk)
adalah hak tunggal yang diberikan oleh pemerintah kepada orangn atau badan
usaha yang menggunakan cap, nama atau lambang usaha. Apabila biaya untuk
memperoleh merek dagang tidak material maka biaya itu bisa diperlakukan sebagai
beban pada periode diperolehnya. Tetapi jika biaya cukup besar, maka
dikapitalisasikan sebagai aktiva tetap tidak berwujud dan diamortisasikan
setiap tahun. Harga prolehan merek dagang yang dibuat sendiri oleh prusahaan
adalah semua biaya yang berhubungan dengan usaha pembuatan dan pendaftarannya.
Sementara merek dagang yang diperoleh dengan pembelian darr pihak lain, harga
perolehannya adalah sebesar harga belinya.
d. Goodwill
Goodwill
adalah nilai lebih yang dimiliki oleh suatu perusahaan yang timbul karena
adanya kelebihan dalam beberapa factor, seperti nama yang terkenal, staf dan
personalia yang berkemampuan tinggi atau lokasi perusahaan yang menguntungkan.
Goodwill hanya bisa dicatat atau diakui
apabila pindah dari perusahaan lain melalui pembelian perusahaan lain pada
harga yang lebih tinggi dari nilai wajaraktiva nettonya. Kelebihan harga diatas
nilai wajar itulah yang diakui sebagai harga perolehan goodwiil.[4]
Dalam aktiva tetap tak berwujud terdapat
3 karakteristik, antara lain: (1) tidak memiliki keberadaan secara fisik, (2)
bukan merupakan instrumen keuangan, (3) bersifat jangka panjang dan harus
diamortisasi.
·
Pengelompokan
aktiva tak berwujud:
Aktiva tidak
berwujud dapat dikelompokan kepada:
1) Kemampuan
dapat diidentifikasikan:
ü Dapat
diidentifikasikan seperti hak cipta, hak paten, dan sebagainya.
ü Tidak dapat
diindentifikasikan seperti goodwill
2) Cara perolehan:
ü Secara
pembelian, seperti hak paten
ü Melalui
penggabungan bada usaha seperti goodwill
ü Dikembangakan
sendiri seperti formula rahasia
3) Masa manfaat
yang diharapkan:
ü Tergantung
pada pembatasan yang diatur oleh hukum atau perjanjian seperti hak paten, hak
cipta, dan sebagainya
ü Jangka waktu
yang tidak terbatas seperti goodwill, merek
dagang
4) Kemampuan
untuk dipisahkan dari eksistensi perusahaan:
ü Dapat
dipisahkan seperti hak cipta
ü Tidak dapat
dipisahkan seperti goodwill[5]
C. Aktiva/sarana prasarana sekolah (spp)
Sarana dan
prasarana sangat penting dalam dunia pendidikan
karena sebagai alat penggerak suatu pendidikan. Sarana dan prasarana pendidikan
dapat berguna untuk menunjang penyelenggaraan proses belajar mengajar, baik
secara langsung maupun tidak langsung dalam suatu lembaga dalam rangka mencapai
tujuan pendidikan. Sarana dan prasarana pendidikan
adalah salah satu sumber daya yang menjadi tolok ukur mutu sekolah dan perlu
peningkatan terus menerus seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang cukup canggih.
Bentuk Aktiva dalam sarana dan prasarana dalam
dunia pendidikan umumnya sama dengan aktiva dunia industri atau perkantoran.
Terdapat aktiva berwujud dan aktiva tak berwujud, penjelasannya sebagai
berikut:
1.
Aktiva
berwujud dalam sarana dan prasarana sekolah
Aktiva berwujud dalam sarana
dan prasarana sekolah merupakan segala maca alat yang digunakan secara langsung
dalam proses pendidikan. yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media
pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta
perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang
teratur dan berkelanjutan. Contoh: buku, alat tulis, papan tulis, meja dan
sebagainya.
2.
Aktiva
tak berwujud dalam sarana dan prasarana sekolah
Aktiva tak berwujud dalam
sarana dan prasaran sekolah merupakan segala macam alat, perlengkapan, atau
benda-benda yang dapat digunakan untuk memudahkan penyelenggaraan pendidikan.
Contoh: gedung sekolah
D. Metode penyusutan dan Amortisasi
1. Metode penyusutan
Dalam
standar akuntansi keuangan yang sudah diterima umunya terdapat 4 metode yang
paling sering digunakan dalam menghitung beban penyusutan (depresiasi), metode
penyusutan tersebu yaitu:
a. Metode garis lurus (straight line methods)
Metode
ini merupakan metode perhitungan yang paling sederhana dan banyak digunakan
oleh organisasi perusahaan. Cara ini memberikan beban depresiasi yang konstan
pada setiap periode akuntansi selama masa manfaat dari aktiva tetap yang
bersangkutan, dalam metode ini penentuan besar penyusutan setiap tahun selama
umur ekonomis sama besar, sehingga jikat dibuatkan grafiknya terhadap waktu dan
akumulasi biaya akan berupa garis lurus.
b. Metode dengan angka-angka
tahunan (sum of the year digit methods)
Metode jumlah angka tahun akan menghasilkan biaya
depresiasi yang lebih pada tahun-tahun awal dan semakin kecil pada tahun-tahun
akhir. Oleh karena itu, metode ini juga termasuk dalam metode depresiasi yang
dipercepat. Metode ini disebut jumlah angka-angka tahun karena tarif
depresiasinya didasarkan pada suatu pecahan yang:
ü Pembilangnya
adalah tahun-tahun pemakaian aktiva yang masih tersisa sejak awal tahun ini
ü Penyebutnya
adalah jumlah tahun-tahun sejak tahun pertama hingga tahun pemakaian akhir
c. Metode saldo menurun (declining balance methods)
Pada metode ini, biaya
depresiasi dari tahun ke tahun semakin menurun. Hal ini terjadi karena
perhitungan biaya depresiasi periodik didasarkan pada nilai buku (harga
perolehan dikurangi dengan akumulasi depresiasi) aktiva yang semakin menurun
dari tahun ke tahun. Metode ini merupakan metode depresiasi yang dihitung
dengan mengalihkan nilai buku aktiva pada awal periode dengan dua kali tarif
garis lurus. Nilai buku pada awal tahun pertama adalah sama dengan harga
perolehan aktiva, sedangkan pada tahun-tahun berikutnya, nilai buku adalah
selisih antara harga perolehan dengan akumulasi depresiasi pada awal tahun.
Berbeda dengan metode lainnya, pada metode ini nilai residu tidak
diperhitungkan. Akan tetapi, nilai residu akan menjadi batas jumlah depresiasi
yang akan dilakukan. Depresiasi akan berakhir apabila nilai buku telah mencapai
jumlah yang sama dengan atau mendekati taksiran nilai residu.
d. Metode unit produksi (unit productive methods)
Dalam metode suatu hasil,
masa pemakaian aktiva yang dinyatakan dengan jangka waktu, melainkan dengan
jumlah satuan (unit) yang dapat dihasilkan oleh aktiva yang bersangkutan.
Metode ini cocok digunakan untuk depresiasi mesin pabrik, karena hasil suatu
mesin dapat diukur satuannya. Metode ini dapat juga didasarkan pada jam kerja
mesin atau jam kerja operator yang menangani mesin. Metode ini dapat digunakan
juga untuk peralatan angkutan (diukur dengan jarak yang ditempuh) atau
peralatan kantor tertentu (diukur dengan jam pemakaian). Namun demikian metode
ini tidak tepat digunakan pada gedung atau mebel, karena untuk aktiva semacam
ini depresiasi lebih merupakan fungsi waktu (bukan kegiatan), dan satuan
hasilnya sukar untuk diukur. Oleh karena itu dalam metode ini yang perlu
ditaksir adalah jumlah satuan hasil yang diperkirakan dapat dihasilkan oleh
aktiva. Taksiran satuan hasil ini dipakai untuk membagi harga perolehan
depresiasi, sehingga dapat ditentukan depresiasi per tahun hasil. Angka
depresiasi per unit hasil ini kemudian dikalikan dengan jumlah satuan hasil
sesungguhnya pada satru tahun, sehingga dapat diterapkan depresiasi untuk tahun
yang bersangkutan.
2. Amortisasi
Amortisasi adalah pengurangan
nilai aktiva tidak berwujud,
seperti merek dagang, hak
cipta, dan lain-lain, secara bertahap dalam jangka
waktu tertentu pada setiap periode
akuntansi. Pengurangan ini dilakukan dengan mendebit
akun
beban
amortisasi terhadap akun aktiva.
Aktiva tidak berwujud harus diamortisasikan menjadi beban sepanjang masa manfaat
aktiva tersebut. Dalam PSAK No. 9 disebutkan bahwa periode amortisasi aktiva
tidak berwujud tidak boleh melebihi 20 tahun berdasarkan pertimbangan bahwa
selama 20 tahun sudah banyak perkembangan yang terjadi sehingga untuk tenggang
waktu selebihnya aktiva tidak berwujud diperkirakan tidak lagi memiliki manfaat
keekonomian.
[1]Ely Suharti & Sri Dewi Anggadini. Akuntansi Keuanga. (Yogyakarta: Graha
Ilmu, 2009), hal 247
[3]Ely Suharti & Sri Dewi Anggadini. Akuntansi Keuangan. (Yogyakarta: Graha
Ilmu, 2009), hal 267
[4] http://riqikudanzi.blogspot.com/2012/07/aktiva-tetap-tidak-berwujud.html (jumat, 19-09-2014. Jam 14.12)
[5]Ely Suharti & Sri Dewi Anggadini. Akuntansi Keuangan. (Yogyakarta: Graha
Ilmu, 2009), hal 267-268